Senin, 25 Juni 2018

Puisi


“Majulah Terus”

oleh : Dency Bernadeta A


Dengar, dengar, dengarlah isi tulisan ini

Hanya kepadamu harapan ku sandangkan

Hanya kepadamu cita-cita dipertaruhkan

Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagimu

Bangkitlah melawan arus yang terus mendera Kuasailah dirimu dengan sikap optimis

Paculah laju kudamu sekencang-kencangnya Lawanlah bebatuan terjal yang mengusik di jalanan

Ingat, Engkau adalah harapan, engkau adalah

masa depan

Masa depan ada di tanganmu

Harapan terpendam ada di pundakmu

Majulah...



Majulah terus....



“TERD(b)IDIK”

oleh : Zia Khusunulabib Ahmad


Hari ini lini masa merilis zaman edan

Akibat instal berlebih iklan kebebasan

Upgrade kegilaan-kegilaan tak lagi terelakkan

Nilai norma hanya jadi aplikasi terpinggirkan

Ajar telah mereset buku, pena, dan aksara

Mendownload tuntutan atas nama koneksi dan kuota

Anak bangsa lupa notifikasi akan cita terdidik

Kini direvisi dalam pasrah diam terbidik

Alam tak mampu lagi mengisi daya jadi guru 
Murid disibukkan menghamba flatron sebagai ibu

Kidung ilmu merupa tape tua yang mati berdebu

Maka esok buku adalah benda haram untuk digugu

Maya menjelma nyata atas kehendak publik

Mengakar kekinian yang menginfeksi rubrik

Ajar budi ter-hidden di balik layar sosial

Massa jadi followers zaman tak bermental

Cerpen


Izinkan Emas itu Bersinar

Oleh: Ira Nurastuti

Ssstt…Sst
Makhluk itu terus menenangkan kerumunan orang yang ada di depannya. Gaduh, ramai, bagaikan pasar. Ada yang asyik sendiri, ada yang sibuk dengan urusannya sendiri, ada yang berdiam diri saja. Nampaknya untuk mengurus dan menenangkan kerumunan orang dalam kelas itu tidak mudah, penuh perjuangan. Sebagian dari kerumunan itu berdiri berjajar di depan kelas untuk memaparkan hasi uji keras mereka. Makhluk itu pun sabar dalam menenangkan kerumunan orang tersebut, dan akhirnya pun suasana  kondusif.
Ya, itu sudah kewajiban makhluk tersebut dalam kesehariannya. Makhluk ciptaan Tuhan,namanya Diandra Audy Larasati, seorang wanita yang memiliki cita-cita sejak kecil untuk mendidik generasi penerus bangsa. Wanita sepertiga abad tersebut menggapai cita-citanya dengan semangat dan perjuangan. Hingga pada akhirnya ia resmi menjadi seorang pendidik di sekolah tingkat atas atau disebut SMA.
Terik mentari di siang hari membuat orang-orang ingin beristirahat, bersantai, tapi tidak dengan Diandra. Ia berusaha untuk mendidik generas penerus bangsa. Siang itu, Diandra sedang mengajar peajaran sosiologi, ya ilmu yang sejak dulu telah ada karena pandangan tokoh-tokoh, paradigma, teori melebur menjadi satu sehingga timbulah Sosiologi.
“Anak.. Anak, kali ini kita akan membahas tentang kelompok sosial, yaitu Paguyuban dan Patembayan…Sekarang Ibu mau bertanya, siapa tokoh yang memiliki teori tentang paguyuban dan patembayan?,” seru Diandra
Kerumunan orang di hadapan Diandra mengamati apa yang telah dikatakan makhluk tersebut, lalu salah satu dari kerumunan tersebut menaikan tangannya, pertanda ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan.
“Ferdinand Tonnies, Bu…,” jawab Ayu
“Ya, tepat sekali.. Kamu benar…,” ucap Diandra dengan senyuman yang mengiasi wajahnya.
Sosiologi itu penuh teori, banyak sekali teori yang menggambarkan sebuah kehidupan masyarakat, dengan teori kita bisa mendalami apa yang dilakukan oleh masyarakat tersebut.Banyak yang dipelajari, itulah mengapa Diandra ingin mendalami ilmu sosiologi.
Saat pelajaran berlangsung, ada sebagian kerumunan orang, yaitu Kayla, Ryan, Dodi, dan Kia yang tidak memperhatikan apa yang sedang dipelajari dan dibicarakan pada kelas tersebut. Diandra tidak diam, dia menegur dan menasihati anak-anak didiknya. Ia terus membujuk supaya mereka bisa mendengarkan dan belajar dengan konsen. Terkadang dalam pikiran Diandra, ia merasa bahwa generas saat ini sulit untuk diberitahu, sulit untuk berubah lebih baik. Apalagi pada zaman milenial saat ini, banyak murid yang lebih senang dan asyik dengan telefon genggam dan alat-alat elektronik sehingga mereka melupakan untuk belajar. Itu merupakan suatu tantangan dalam hidup Diandra. Ia bertekad supaya anak-anak didiknya itu bisa menggenggam dunia, di mana mereka bisa untuk bersaing dengan dunia yang luas. Bagi Diandra mereka semua adalah sebuah emas, emas yang patut untuk bersinar. Bahkan ia telah memberikan banyak model pembelajarn dan media pembelajara, seperti ular tangga, kompas, dan banyak benda kreatif yang ia buat. Supaya anak-anak bisa memahami sosiologi dengan mudah.
Suatu hari, Diandra menemui Kayla, Ryan, Dodi, dan Kia sedang membolos, dan tidak masuk sekolah, hal itu membuat ia sedih, hingga akhirnya Kayla,Ryan,Dodi, dan Kia pun menyesal karena setelah itu mereka dihukum oleh kepala sekolah akibat perbuatannya. Setelah kejadian tersebut, mereka pun tersadar dan berusaha untuk berubah untuk lebih baik. Dan menuruti nasihat Bu Diandra. Bagi Bu Diandra, mereka adalah emas, yang patut untuk bersinar menyinari dunia ini.

-Selesai-


SELO SOEMARDJAN



SELO SOEMARDJAN

Selo Soemardjan, tempat dan
1956 hingga 1959 di Cornell Univer-

menerima gelar Ilmuwan Utama So-
tanggal lahir Yogyakarta, 23 Mei
sity, Amerika Serikat mendapat gelar
siologi dan pada 15 Agustus 1994,
1915, pernah menjabat sebagai Guru
Doktor dalam Ilmu Sosiologi dengan
ayah dari 6 orang anak dan kakek
Besar pada Fakultas Hukum UI, Staf
Tesis : Social Change in Jogjakarta.
dari 16 cucu tersebut menerima Bin-
Sosial,  serta  anggota AIPI  (Aka-
Berikut riwayat pekerjaan yang per-
tang  Mahaputra  Utama,  sehingga
demi Ilmu Pengetahuan Indonesia)
nah dilakukan oleh Soemardjan yaitu
apabila
ditulis
lengkap

namanya
serta sebagai anggota MPR periode
menjadi juru tulis di kantor Kepati-
adalah
Mahaputra
Utama
Prof.Dr.
1993 hingga 1998. Mempunyai is-
han,  Kesultanan
Yogyakarta.  Lalu
Kangjeng Haryo Selo Soemardjan.
tri  yang  bernama  Seleki  Brotoat-
pernah
menjadi
Panewu
Lendah,
Serta pada 30 Agustus 1994 kemba-
modjo serta memiliki 6 orang anak.
Kulon Progo, Kesultanan Yogyakar-
li memperoleh penghargaan berupa
Riwayat pendidikan Selo Soemard-
ta dan juga pernah menjabat sebagai
bintang Satya Lencana Pembangu-
jan dimulai pada tahun 1921 hingga
Wedana di kantor Kepatihan, Kesul-
nan dari Pemerintah (Menteri Trans-
1928 ia menempuh jenjang H.J.S
tanan Yogyakarta, serta dilanjutkan
migrasi
dan
Perambahan
Hutan).
m/d Bijbel Wetan, Yogyakarta. Se-
dengan
menjadi
Sekretaris
Pribadi









lanjutnya pada
tahun
1928 sampai
Sri Sultan Hamengku Buwono IX.








(NRA)
dengan 1931 meneruskan ke jenjang
Tidak hanya berhenti sampai disitu

















selanjutnya  yaitu  Ciba  atau  Can-
Soemardjan juga pernah bekerja se-
Sumber : Yusra, Abrar. 1995.
didaat Inlands
Bestuurs Ambtenaar
bagai Pegawai Tinggi RI di kantor
Komat-kamit Selo Soemardjan:
di Madiun, kemudian di Yogyakarta.
Perdana Menteri, dan lalu dipercaya
Biografi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Lalu melanjutkan ke jenjang yang
sebagai Sekretaris Bapekan (Badan
Utama







lebih tinggi di Mosvia (Middlebare
Pengawas  Kegiatan Aparatur Neg-









Opleidings School voor Inlandsche
ara), juga menjadi Guru besar luar









Ambtenaren)
di  Magelang.
Dan
biasa, Universitas Indonesia, kemu-









yang terakhir
adalah
pada
tahun
dian Sekretaris Bapeka atau Badan










Menatap Jejak Hima Dilogi dalam Peringatan HUT Hima Dilogi #11


Menatap Jejak Hima Dilogi dalam Peringatan HUT Hima Dilogi #11



Yogyakarta—22 Mei 2018, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi (Hima Dilogi) Fakul-tas Ilmu Sosial Universitas Neg-eri Yogyakarta memperingati hari ulang tahunnya yang ke 11. Perin-gatan ulang tahun ini diwarnai den-gan serangkaian acara diantaranya games, lomba voli, lomba futsal, dan puncak HUT Hima Dilogi. Games diadakan pada hari Minggu 22 April 2018 dengan berbagai cabang lomba diantaranya tarik tambang, mengambil koin dalam tepung, me-masukkan paku kedalam botol se-cara berkelompok, dan pecah air. Acara ini dilaksanakan di halaman Ruang Cut Nyak Dhien(CND) FIS UNY. Meskipun sempat diguyur hu-jan, acara ini tetap berjalan meriah.

Lomba voli diadakan pada Sabtu, 28 Mei 2018 di lapangan voli, Padukuhan Mrican, Sleman, Yog-yakarta. Perlombaan ini diikuti oleh mahasiswa aktif Pendidikan Sosiolo-gi mulai dari angkatan 2015 sampai angkatan 2017. Di mana dalam per-lombaan ini kelas 2017 A keluar se-bagai juara pertama dan kelas 2016 B berhasil meraih juara kedua. Setelah perlombaan voli ini selesai, pada hari berikutnya diadakan lomba futsal di Telaga 3, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta. Pertandingan antar kelas ini berlangsung ketat dan seru den-gan akhir perlombaan dimenangkan oleh kelas 2015 B sebagai juara per-tama dan 2017 B sebagai juara kedua.



Puncak acara HUT Hima Dil-ogi ini diadakan pada hari Rabu, 23 Mei 2018 pukul 16.00 WIB di Ru-ang Ki Hajar Dewantara (KHD) FIS UNY. Acara bertajub sarasehan ini mengusung tema Sociostory, dengan mengangkat perjalanan Hima Dil-ogi dari pertama kali berdiri hingga sekarang. Dalam sambutannya, Fir-giawan Aldabi selaku Ketua Hima Dilogi menyampaikan bahwa kegia-tan sarasehan ini dimaksudkan untuk mempererat hubungan antara dosen, mahasiswa aktif, dan alumni Pendi-dikan Sosiologi. Sarasehan ini dibu-ka oleh Ibu Nur Hidayah S.Sos M.SI selaku sekretaris jurusan yang me-wakili Ketua Jurusan Pendidikan So-siologi. Dalam sambutannya, beliau mengutarakan harapan-harapannya untuk Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Hima Dilogi. Acara sarasehan ini dilanjutkan dengan penayangan video kegiatan Hima Dilogi yang berjudul “Kejar Daku Sampai Ke Hima”. Setelah itu, diadakan sharing yang membahas tentang terbentukn-ya Hima Dilogi UNY sejak awal ber-diri hingga sekarang dengan moder-ator yaitu Zia Khusnullabib Ahmad. Dalam acara sharing ini, terdapat beberapa narasumber diantaranya : Nur Endah Januarti, M.A, Khairul Umam, S.Pd., dan Grendi Hendras-tomo, M.A selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi. Ibu Endah selaku perwakilan alumni mencerita-kan sejarah berdirinya Hima Dilogi di Ruang Cut Nyak Dhien FIS UNY.

Dari tahun ke tahun perjuan-gan Hima Dilogi terus dilanjutkan dari satu generasi ke generasi berikut-nya. Acara ini diakhiri dengan pem-otongan tumpeng oleh Ketua Hima Dilogi yang selanjutnya diserahkan kepada Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi, buka bersama, pengumu-man kejuaraan lomba serta penghar-gaan kepada mahasiswa Pendidikan Sosiologi dengan berbagai kategori.

(IN)

Bedah Lirik



Jangan Ragukan Mimpimu

Billfold-Bisa

Lagu Bisa dipopulerkan oleh band indie asal Bandung bernama Billfold. Berikut lirik dari Bill-fold yang berjudul Bisa :


Tak terasa hinggaku tuk melihatnya

Tetap ku kuatku untuk melangkah

Kepedihan disana takkan membuatmu

Berhenti malakukannya semua dan aku bisa

(*)  Tetap - tetap tetap meraihnya Jangan takut lakukan

Dan tetaplah bisa untuk meraihnya Jangan takut lakukan

Coba menguatkan yang tak bicara

Menutup gelap hilangkan semua

Tetap tinggal disini dan aku yakin

Karna kau yang menjadi juara dan aku bisa Back (*)

Karena semuanya kan datang

Menghampiriku di saat aku tak sadar

Untuk melihat semua kenyataan

Semua perasaan yang tak akan hilang

Tetap-tetap tetap meraihnya

Jangan takut lakukan

Dan tetaplah bisa untuk meraihnya

Jangan takut lakukan

Jangan takut lakukan 3x

Semua kenyataan

Bedah Lirik


           Bait pertama dari lirik tersebut menceritakan bahwa setiap orang terkadang memiliki masalah yang besar sampai ia benar tidak mampu lagi untuk memikirkan masalah tersebut. Namun lirik berikutnya pada lagu ini menjelaskan setiap orang harus memi-liki keyakinan bahwa ia akan tetap memiliki kesempatan untuk bisa melangkah kembali. Pentingnya kepercayaan bahwa suatu masalah tidak akan mampu menghentikan sebuah mimpi. Pada bait kedua dimaknai dengan pesan bahwa seseorang harus memi-liki kekuatan untuk tetap meraih segala mimpi yang selama ini diimpikan, jangan pernah merasa takut untuk meraih mimpi itu. Nah dalam bait ketiga ini menjelaskan bahwa ketika seseorang mempunyai mimpi cobalah untuk membuktikan kepada seki-tar tentang mimpi itu dan tinggalkan segala kesedihan, tetaplah yakin bahwa kita mampu untuk menggapai mimpi itu. Begi-tu juga sama halnya dengan pendidikan, jangan pernah merasa takut ataupun minder dengan pendidikan. Pendidikan adalah hak semua orang. Berapapun masalah yang menghambat untuk mendapatkan pendidikan, yakinlah bahwa semua akan ada jalan ketika tetap ada niat dan tekad. Seperti kata Soekarno, “Gantung-kan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”. (NAR)