Senin, 23 September 2013

HIMA Eksplorasi Peternakan Kambing Etawa







Minggu, 15 September 2013, keluarga besar Hima Dilogi dan mahasiswa baru 2013, melakukan  eksplorasi ke daerah Turi, tepatnya di Dusun Kemirikebo Turi. Seluruh panitia dan peserta kumpul di Hima Dilogi. Pemberangkatan sekitar pukul 8.00 WIB.
Acara di buka dengan sambutan perwakilan dari Kelompok Petani Peternak (KPP) Pangestu, bapak Paiji. Setelah sambutan, penyampaian materi dari pihak KPP Pangestu oleh bapak Paiji dan rekannya. Menurut bapak Paiji, awalnya warga dusun Kemirikebo adalah peternak sapi, tetapi sesudah mengetahui beternak kambing Peranakan Etawa (PE) lebih menguntungkan, maka mereka beralih menjadi peternak kambing PE. Kambing PE merupakan hasil dari peranakan kambing ettawa dengan kambing dari Indonesia. Kambing ettawa berasal dari India, di bawa pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1920. Kini sudah 900 ekor kambing yang di kelola warga. Setiap warga memiliki kambing sendiri, tetapi di pelihara pada satu tempat, supaya sanitasi kandang tetap terjaga. Keuntungan ternak kambing PE dibandingkan kambing yang lain adalah dagingnya banyak, kotoran kambing untuk pupuk, dan susu yang dihasilkan jauh lebih banyak. Sejak warga menjadi peternak kambing PE, pendapatan mereka menjadi lebih meningkat. Saat ini sudah banyak inovasi yang dilakukan warga terkait pengelolaan susu kambing PE. Diantaranya ada kerupuk susu, es krim susu, sabun berbahan dasar susu, dan susu murni dengan berbagai rasa, yaitu strawberry, coklat, jahe, dan lainnya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari perwakilan KPP Pangestu, acara di lanjutkan dengan ISHOMA.  Pukul 13.00 WIB, semua peserta pergi ke tempat perternakan kambing. Panitia dan pesrta di bagi menjadi 10 kelompok, di mana masing-masing kelompok di pandu oleh beberapa orang dari KPP Pangestu. Tempat perternakan luas, bersih dan tertata, sehingga sanitasi sudah sangat baik. Setiap kambing di pelihara dan di rawat dengan sebaik mungkin. Seluruh kambing memiliki nama sendiri-sendiri, agar nantinya tidak ada kambing yang di kawinkan dengan sedarah atau satu keturunan. Jika hal itu terjadi, dapat merusak keturunan berikutnya. Setiap minggu kambing-kambing tersebut harus di mandikan, supaya bersih dan bulu-bulunya terawat. Acara selesai pukul 15.00 WIB yang di tutup dengan pemberian kenang-kenangan dari Hima Dilogi kepada KPP Pangestu.


         

Selasa, 10 September 2013

Workshop Jurnalistik "Kupas Tuntas Jurnalistik"



HIMA Pendidikan Sosiologi UNY
Present: Workshop Jurnalistik dengan tema "Kupas Tuntas Jurnalistik"
Pembicara Tim dari Swara Kampus harian Kedaulatan Rakyat
Ayoo daftarkan dirimu! Peserta terbatas lhoo...

Info lebih lanjut hubungi: Yusuf (085726099683)


Jumat, 19 Juli 2013

INFO CALL FOR PAPER DILOGI 2013




A. Latar Belakang
Pemberitaan mengenai pelaksanaan wajib militer di Indonesia atau wamil saat ini santer diberitakan dalam media nasional. Draff mengenai RUU Komponen Cadangan Pertahanan Nasional pun telah dibicarakan dan sedang diperdebatkan oleh komisi 1 DPR. Wacana Wajib militer sendiri telah banyak dan banyak di bicarakan di Negeri ini. Namun untuk pelaksanaannya belum pernah dilakukan. Wajib militer adalah kewajiban bagi seseorang warga Negara yan berusia antara 18 – 27 tahun untuk menyandang senjata, menjadi anggota tentara dan mengikuti pendidikan guna meningkatkan ketangguhan kedisiplinan warga negaranya
Dalam penerapannya berbagai Negara telah memberikan criteria tersendiri dalam pelaksanaan wajib militer bagi para warganya. Wajib Militer diwajibkan kepada warga negara pria, sedangkan warga negara wanita tidak diharuskan wajib militer. Akan tetapi, terdapat beberapa negara yang mewajibkannya untuk warga negara wanita, seperti di Israel, Korea Selatan, dan Suriname. Selain itu, mahasiswa pun biasanya tidak perlu/ tidak diwajibkan wajib militer. Di Negara Indonesia sendiri di dalam rancangan Undang-Undang hanya tertuliskan bahwa hanya PNS, buruh, dan mantan militer saja yang wajib menjalai wajib militer . Akan tetapi kebijakan wajib militer ini pun diperuntukkan untuk masyarakat luas warga Indonesia dan di dalam draf disebut pula kebijakan wajib militer bersifat sukarela selama telah memenuhi syarat yang disebutkan dalam Undang-Undang.
Wacana yang muncul mengenai kebijakan wajib militer yang akan diterapkan di Indonesia ini, telah menjadi sebuah pemikiran tersendiri bagi masyarakat Indonesia, yang terwujjud dalam banyaknya tanggapan yang muncul dari berbagai pihak. Wacana wajib militer di Indonesia saat jika kita telaah dari beberapa perspektif bidang kehidupan seperti pendidikan, sosio-kultural, dan politik-ekonomi maka kita akan mengetahui dampak serta urgensi mengenai penerapan wajib militer yang akan dilaksanakan di Indonesia.


Sehubungan dengan adanya wacana mengenai kebijakan wajib militer yang akan diselenggarakan di Indonesia, Jurusan Pendidikan Sosiologi FIS UNY mengadakn Seminar Nasional dengan tema “Wacana Kebijakan Wajib Militer di Indonesia”


B. File - File Yang Perlu Di Download

1. Panduan Penulisan
Download

2. Contoh Abstrak
    Download

3. Form Identitas Peserta
   Download
Bila ingin mendownload file, harap tanda centang dihilangkan, seperti gambar dibawah ini




C. Rekening
     BNI 0265668078 a.n. Deri Randani

D. Tanggal Penting

  1. Batas akhir penyerahan abstrak, ( 11 September 2013 )
  2. Pemberitahuan diterima, ( 14 September 2013 )
  3. Batas akhir penyerahan full paper, ( 19 September 2013 )

 

Senin, 17 Juni 2013

Ibnu Khaldun dan Ashobiyah


Ibnu Khaldun dan Ashobiyah
Seorang sarjana sosiologi dari Italia, Gumplowiez melalui penelitiannya yang cukup panjang, berpendapat, ”Kami ingin membuktikan bahwa sebelum Auguste Comte (1798-1857 M) dan Giovani Vico (1668-1744 M) telah datang seorang muslim yang tunduk pada ajaran agamanya. Dia telah mempelajari gejala-gejala sosial dengan akalnya yang cemerlang. Apa yang ditulisnya itulah yang kini disebut sosiologi.” Dia-lah Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun sebagai ilmuwan muslim yang lebih dekat pemikirannya dengan ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi, telah memiliki bebarapa karya, dan salah satunya adalah buku yang berjudul “Muqaddimah”. Buku ini cukup banyak memberikan dasar bagi lahirnya disiplin sosiologi. Manusia, menurut Khaldun (dalam bukunya Muqaddimah), pada dasarnya diciptakan sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang membutuhkan orang lain dalam mempertahankan kehidupannya, sehingga kehidupannya dengan mayarakat dan organisasi sosial merupakan sebuah keharusan. Sebagai makhluk sosial, manusia memliki rasa solidaritas dengan kelompoknya. Solidaritas atau kohesi sosial ini yang disebut ashobiyah oleh Khaldun. Konsep ashobiyah ini juga sangat relevan dengan perubahan sosial masyarakat pada masa kini. Khaldun mamandang bahwa kohesi sosial atau ashobiyah masyarakat tradisional dan primitif atau Khaldun menyebutnya masyarakat Badui lebih kuat daripada masyarakat kota. Kondisi fisik tempat masyarakat Badui tinggal turut mempengaruhi kehidupan beragama mereka. Mayarakat Badui yang hidup sederhana dibanding orang-orang Kota dan hidup dengan meningglakan makanan yang mewah, memiliki tingkat ketakwaan yang lebih dibandingkan masyarakat Kota. Mereka juga lebih berani daripada penduduk kota karena penduduk Kota malas dan suka yang mudah-mudah serta larut dalam kenikmatan wal kemewahan. Hal ini yang menjadikan masyarakat Badui memiliki solidaritas sosial yang sanga kuat, sementara kehidupan masyarakat kota yang lebih bersifat individualis berdampak pada lemahnya ikatan solidaritas sosial mereka. Namun, seiring berjalannya waktu kelompok Badui yang hidup serba terbatas, sederhana, tidak banyak menikmati kemewahan dan kesenagan menyebabkan mereka terdorong untuk memperbaiki hidup mereka dengan melakukan urbanisasi serta ekspansi ke masyarakat kota. Dengan solidaritas yang kuat, masyarakat Badui mampu mengalahkan dan menyingkirkan masyarakat Kota yang solidaritas sosialnya lemah. Orang Badui kemudian menjadi masyarakat kota yang hidup serba nikmat dan mewah yang menyebabkan mereka lupa akan pentingnya solidaritas sosial dan lebih bersifat idividualis. Akhirnya, orang-orang Badui yang sudah menjadi masyarakat Kota inipun bernasib sama seperti masyarakat Kota yang sebelumnya berhasil mereka taklukan. Perubahan sosial seperti inilah yang kini sering dialami masyarakat Indonesia. Ketika orang-orang desa yang memiliki tingkat ashobiyah kuat berpindah ke kota yang notabene tingkat ashobiyah-nya lemah, mereka (masyarakat desa) akan cenderung berubah menjadi lebih individualis dan mengabaikan solidaritas sosial yang sebelumnya mereka miliki secara kuat.

Mahasiswa Dilogi