Jumat, 11 Juni 2021

Puisi: Jalan Yang Ku Inginkan

 Jalan Yang Ku Inginkan

Oleh: Safira Nur Hamidah

 

Sinar matahari mengetuk jendela

Meminta izin masuk pada tirai

Langkah menuntunku membuka

Langkah menuntunku untuk membasuh

dan lagi langkah ini menuntunku duduk

 

Dengan rasa yang sama dan mungkin akan selalu sama

Ku buka benda pipih itu

Ku tekan setiap kunci pada huruf serta deretan angka

hingga aku dapat menatap wajah yang kurindukan

 

Ku tatap wajah-wajah yang tersekat oleh digital

Ku sambut sapa, walau tanpa raga

Ku dengar rangkaian kata

Walau ditemani rasa bosan dan lelah

 

Waktu terus berlalu

Berjalan melewati jalan yang sama

hingga keluh kesahku seketika tiada artinya lagi

 

Ku ingin waktu membawaku ke jalan yang berbeda 

Jalan yang dapat membawaku menatap wajah tanpa sekat digital

Jalan yang dapat ku sambut sapa dengan raga ini

Hingga nanti keluh kesahku

bersambut dengan keluh kesah lainnya.

                                 

Puisi: 20 Kelabu

            20 Kelabu

        Oleh: Aliza Alifa


Kerumunan tak lagi layak disambang

Jarak yang semakin menjauh

Jabat tangan tak lagi jadi ukuran sopan

Malah menjadi kesialan

 

Merebak orang berlalu lalang

"Ah, sesak" tangan itu mencengkeram dada dengan kencang

Tergopoh-gopoh jalannya

Langsung ambruklah badannya

Dikerumuni

 

"Jangan sentuh dia!"

Teriak seseorang dari kerumunan itu

Hiruk pikuk alasan suara itu tak didengarkan

Orang bantu menyadarkan

Tak tahu jika itu ancaman

 

Laun semakin menyeruak berita

Direnggutlah nyawa-nyawa yang tak tahu kau itu bentuknya seperti apa

Merenggut hebat orang layaknya kau Tuhan

 

Berdiam di rumah

Bersapa lewat maya

Janggal? Iya! Hanya bercakap menimbulkan penat

Timbul ketidakmengertian

Kapan bumi menyelesaikan masalah ini?

 

Semuanya

Semua

Hilang satu persatu

Kita sekarang hanya berpuluh juta manusia yang bertahun hidup sengsara

Tak ada pemeran pengganti yang akan tanggung derita

Kata Mereka

Kata Mereka

(No name)

        Pembelajaran di rumah mengharuskan peserta didik untuk melakukan pembelajaran jarak jauh sesuai dengan peraturan yang ada. Misalnya menghadiri kelas secara daring, kerja kelompok secara daring, semua kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran dilakukan secara daring. Selama pembelajaran jarak jauh, kegiatan belajar menjadi lebih fleksibel. Terkadang, ada mata kuliah yang menerapkan sistem selang-seling, yaitu pembelajaran tatap maya dan pemberian tugas secara bergantian. Walaupun ada beberapa tugas yang memerlukan waktu yang lama untuk mengerjakannya (termasuk mengumpulkan niat untuk mengerjakan tugas tersebut). Ada juga beberapa tugas yang hanya memerlukan waktu yang singkat untuk mengerjakannya. Dengan demikian, saya memiliki lebih banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk mempelajari banyak hal lainnya.

    Dalam hal produktivitas mengikuti kegiatan-kegiatan pembelajaran jarak jauh, hal tersebut tergantung pada sinyal saya. Terkadang saya tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh secara maksimal karena terkendala sinyal. Akan tetapi, jika produktivitas belajar dalam artian selain kegiatan pembelajaran tatap muka yang dilakukan oleh kampus, saya merasa lebih produktif karena adanya fleksibilitas waktu yang ditawarkan oleh sistem ini. Untuk masalah penyampaian materi, beberapa dosen sudah menyampaikan materi dengan baik. Akan tetapi, ada beberapa dosen yang saya rasa agak kurang dalam penyampaian materi, mungkin karena keterbatasan dalam penguasaan teknologi.

    Kelebihan dari pembelajaran online ini adalah adanya fleksibilitas waktu, serta memberikan kesempatan dan pengalaman untuk memanfaatkan teknologi secara maksimal. Sedangkan kekurangan dari pembelajaran online ini adalah nilai saya menjadi bergantung pada sinyal dan PLN, tidak bisa bertemu dengan teman-teman kelas (hanya bisa sksd lewat media sosial), terkadang menjadi kendala dalam mengerjakan tugas kelompok, berpotensi mengakibatkan penurunan kesehatan mata karena terlalu lama menatap layar, kesempatan kuliah dan merasakan vibes Jogja berkurang satu tahun, dan karena sistem pembelajaran online ini saya tidak bisa merasakan dan memanfaatkan fasilitas kampus secara maksimal.

    Harapan saya semoga pandemi cepat berakhir, sehingga bisa segera ke Jogja dan bertemu teman-teman serta dosen-dosen, dan juga semoga nilai saya bagus-bagus, hehe.


Kata Mereka

Kata Mereka

Sudah setahun lebih pandemi COVID-19 berlangsung di Indonesia. Sejak awal pandemi, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh atau yang biasa disebut pembelajaran daring (dalam jaringan) di seluruh jenjang pendidikan. Mahasiswa Pendidikan Sosiologi di Universitas Negeri Yogyakarta pun tak luput terpengaruh atas kebijakan ini. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa Pendidikan Sosiologi  yakni saudara/i Ayu Melani, Anggi Prihantoro, dan Jasmine Nur Palupi dari angkatan 2018, 2019, dan 2020, beginilah pendapat mereka mengenai perkuliahan daring selama masa pandemi COVID-19.

Perkuliahan daring diakui Ayu Melani sangat mempengaruhi mood dan semangat dalam berkuliah. Hal ini karena pembelajaran daring membutuhkan kemampuan belajar mandiri yang sukar dijalani mahasiswa yang biasanya lebih bersemangat saat berinteraksi langsung dalam pembelajaran luring. Senada dengan pengakuan Ayu Melani, Jasmine Nur Palupi juga mengakui hal yang sama bahwa perkuliahan secara daring membuatnya lebih sulit untuk memahami pembelajaran. Berbeda dengan kedua narasumber sebelumnya, Anggi Prihantoro mengungkapkan pendapat lain. Anggi mengaku perkuliahan secara daring ini menarik karena banyak hal baru yang ia peroleh dalam setiap perkuliahan.

Kegiatan perkuliahan yang dilakukan secara daring membutuhkan fasilitas yang berbeda dari perkuliahan secara luring yang kebanyakan perlu disediakan sendiri oleh mahasiswa. Ketersediaan jaringan internet adalah salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran secara daring. Kendala jaringan internet sampai saat ini masih menjadi masalah besar bagi kebanyakan narasumber. Ayu Melani mengatakan bahwa permasalahan jaringan internet sangat merepotkan utamanya jika kita sudah sangat bersemangat dalam belajar, tetapi jaringanya justru mengalami masalah. Kuota internet juga menjadi permasalahan karena pemberian kuota dari Kemendikbud dianggap masih kurang untuk memenuhi keperluan pembelajaran. Anggi Prihantoro juga menyebut kondisi pembelajaran dalam ruang tatap maya juga kurang mendukung mahasiswa untuk aktif berdiskusi sehingga diskusi dalam perkuliahan berlangsung monoton. Selain itu, mahasiswa yang melakukan perkuliahan daring di rumah seringkali mengalami konflik peran sebagai mahasiswa dan sebagai anak, karena anggota keluarga yang kurang paham bahwa kegiatan perkuliahan tetap dilakukan walaupun secara online dan mengira mahasiswa tersebut tidak memiliki pekerjaan untuk diselesaikan.

Meski begitu, perkuliahan secara daring diakui Ayu Melani memiliki dampak positif karena membuatnya terbiasa belajar mandiri. Meskipun pada awalnya ia mengalami kesulitan dalam penerapan, karena masih mencoba beradaptasi. Namun, jika sudah terbiasa, lama kelamaan justru akan merasa nyaman dan menikmati proses perkuliahan yang berlangsung. Dari perkuliahan daring ini pula, ketiga narasumber kami sama-sama setuju bahwa perkuliahan model ini membantu mereka mengenal berbagai media pembelajaran yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Anggi dan Jasmine menyarankan agar metode perkuliahan daring dapat dibuat lebih interaktif atau dicampur dengan metode pembelajaran lain agar mahasiswa tidak merasa jenuh. Saran tersebut dapat dimengerti karena kejenuhan dalam proses pemebelajaran bisa mempengaruhi motivasi belajar para mahasiswa. Di akhir obrolan kami dengan narasumber, ketiga narasumber, mengharapkan pandemi dapat segera usai karena perkuliahan daring perlahan membuat mahasiswa merasa jenuh. “Semoga pandemi lekas berakhir dan dapat belajar secara offline lagi ya,” tutur Ayu Melani.

Kamis, 10 Juni 2021

Opini: Akibat Pembelajaran Online: Siapkah Indonesia Kehilangan Generasi?

Akibat Pembelajaran Online: Siapkah Indonesia Kehilangan Generasi?

Oleh: Anjeli Sarma B. A

            Sudah satu tahun lebih pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaksanakan di Indonesia. Sejak diumumkannya kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, pemerintah terus berusaha dengan gencar untuk mencegah penyebaran Covid-19. Berbagai kebijakan dan arahan diterapkan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus tersebut, salah satunya kebijakan untuk belajar dari rumah. Sejak kebijakan tersebut dikeluarkan, hampir seluruh daerah di Indonesia menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Model pembelajaran ini membuat siswa tidak dapat bertemu dengan guru maupun teman-temannya. Lebih dari 600 sekolah tutup sehingga menyebabkan kurang lebih 60 juta siswa harus belajar secara online. Walaupun, terdapat beberapa sekolah di kawasan tertentu, yang diizinkan untuk dibuka dengan beberapa syarat, tetapi kebanyakan siswa diwajibkan belajar dari rumah.

Awalnya pembelajaran online ini direspon baik oleh masyarakat sebagai solusi yang paling tepat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun, ternyata banyak siswa yang kesulitan dalam mengakses pembelajaran online hingga akhirnya menimbulkan berbagai dampak negatif bagi siswa, seperti menurunnya semangat atau motivasi belajar, munculnya rasa jenuh dan bosan, serta banyaknya siswa yang putus sekolah karena harus bekerja ataupun karena pernikahan dini.

Dampak negatif tersebut terjadi karena beberapa faktor, di antaranya yaitu terbatasnya materi, alat, dan akses terhadap materi pembelajaran dan pengajaran, tidak meratanya infrastruktur khususnya akses internet, kurangnya keterampilan guru dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), kurangnya perhatian orang tua untuk mendampingi anak, dan rendahnya kemampuan siswa dalam beradaptasi dan belajar mandiri.

Tidak dapat dipungkiri, kondisi siswa di tengah pandemi sangat merosot baik dari segi kedisiplinan, kerajinan, hingga kesungguhan belajar. Hal ini karena siswa sudah dimanjakan oleh situasi. Situasi pandemi ini bukannya dijadikan sebagai suatu pecut cemeti bagi siswa, tetapi malah seperti meninabobokan siswa dengan berbagai kenyamanan dengan hanya belajar online dan tugas-tugas yang ada diserahkan begitu saja. Berdasarkan hasil penelitian Global Save Children mengenai pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Indonesia, terdapat 7 dari 10 anak mengatakan belajar lebih sedikit selama pandemi dan terdapat 4 dari 9 anak kesulitan memahami pekerjaan rumah. Hasil tersebut sangat memprihatinkan karena generasi yang seharusnya sudah meningkat sekian persen, sekarang malah seperti terjadi kemunduran. Jika hal ini dibiarkan maka tidak dapat dielakkan, Indonesia akan kehilangan generasinya (lost generation).

Selain itu, lost generation dapat terjadi di tengah pandemi karena penerapan sistem pembelajaran online padahal internet masih menjadi persoalan besar di banyak wilayah Indonesia. Guru Besar Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof. Rochmat Wahab, dalam diskusi mengenai “Generasi yang Hilang Akibat Pandemi”, menyesalkan penerapan kebijakan yang sama di seluruh wilayah Indonesia. Padahal, pemerintah menetapkan status yang berbeda di bidang kesehatan, contohnya wilayah merah, kuning, hijau, atau hitam. Di samping itu, menurutnya banyak daerah di Indonesia yang ada di pegunungan atau pedesaan tidak memiliki kasus Covid-19. Tetapi siswa yang sekolah di daerah tersebut harus melaksanakan sistem pembelajaran yang sama dengan siswa yang di kota yang lebih mudah tertular virus Covid-19. Tentunya anak yang ada di desa menjadi korban dan tidak dapat bersekolah. Padahal di rumah anak-anak ini tidak dibantu oleh orang tuannya karena keterbatasan tingkat pendidikan yang dimiliki orang tua. Kondisi inilah yang juga dapat menyebabkan Indonesia mengalami lost generation.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pemetaan kasus Covid-19. Dengan begitu sekolah yang ada di pedesaan dan tidak memiliki kasus positif Covid-19 dapat melaksanakan sistem pembelajaran yang berbeda dengan sekolah di perkotaan. Sekolah di pedesaan dapat melaksanakan pembelajaran secara langsung dengan menerapkan protokol kesehatan. Selain itu terdapat beberapa rekomendasi berdasarkan penelitian Global Save Children dalam pelaksanaan pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ), yaitu peningkatan akses materi baik daring maupun luring, peningkatan kualitas pengelolaan dan metode PJJ yang partisipatif inklusif, dan peningkatan kapasitas orang tua untuk terampil kreatif mendukung proses belajar di rumah bersama guru.